One Cut of the Dead (2017) Review

Intro

Film One Cut of the Dead ini diproduksi oleh Enbu Seminar dan disutradarai oleh Shinichiro Ueda. Film horror comedy ini menceritakan tentang sekelompok tim pembuat film zombie yg low-budget di suatu gedung di pelosok Jepang. Sang sutradara (Takayuki Hamatsu) protes pada aktor dan aktris di film tersebut yg tidak kunjung bisa berakting dengan natural. Kemudian, sutradara tersebut pergi entah kemana, dan tidak lama setelah itu, terjadilah zombie apocalypse nyata yg menimpa kru film tersebut, dan mau tidak mau, orang-orang yg tersisa disana harus bertahan hidup tanpa adanya harapan untuk meminta pertolongan. Film ini sebenernya udah tayang di Jepang dari tahun 2017 lalu, namun baru ditayangin secara internasional mulai tahun ini, dan di Indonesia terbatas ditayangkan di jaringan bioskop CGV dan Cinemaxx.

Impression

Saat gua liat trailer dari film ini, gua berekspektasi bahwa film ini bakal memberikan rasa horror yg cukup mencekam, namun dibalut dengan komedi yg dapat membuat kita terkekeh-kekeh.

Dan setelah menonton ini, film ini dapat melebihi ekspektasi gua, ya walaupun tetep ada yg kurang di film ini.

Dimulai dari plot dari film ini ya. Film ini menceritakan tentang sekelompok kru film yg sedang syuting film zombie yg pengambilan gambarnya one take, yg tidak lama kemudian mereka terjebak dalam zombie apocalypse beneran. Dan di situasi tersebut, si sutradara ini malah kegirangan karena ekspresi dari orang-orang ini terasa nyata, yg bikin si sutradara ini gamau kejar-kejaran sama zombie ini berhenti. Di bagian itu, gua jujur cukup ngeri karena lumayan banyaknya properti zombie yg berceceran di film ini, dan disaat itu juga gua bisa ketawa dengan akting dari setiap karakter ini, terutama si sutradara, yg diperanin Takayuki Hamatsu, yg terasa nyeleneh, ketika yg lain panik, si sutradara jancuk ini malah tau tau nongol terus teriak “Action!” di depan lainnya, dan ditutup dengan credit dari kru dan aktor yg ada dalam film ini. Kalian kira filmnya berakhir sampai situ? Hohoho, tidak semudah itu ferguso.

Setelah itu, baru ditampilkan cerita dibalik pembuatan film ini. Kita diperlihatkan kehidupan dari si sutradara itu, yg ternyata sangat berbeda ketika dia di depan layar, sampai dia ditawarin buat bikin film yg kita liat di bagian awal tadi. Setelah itu, barulah kita dikasih liat siapa aja kru dan aktor di film ini yg bikin kita paham sifat dan kelakuan mereka dibalik layar, yg kemudian dibawa kembali pada proses syuting film tersebut yg seringkali membuat gua terkekeh-kekeh. Jadi, intinya film ini merupakan film yg memiliki film di dalamnya. Kalo masih gapaham, ya ditonton aja hahaha.

Bagian terlucu di film ini sebenernya adalah ketika film ini menampilkan lagi bagian awal dari film ini, namun tidak hanya dari kamera syuting, tapi juga dari balik layar yg menampilkan kru-kru tersebut bekerja pada film tersebut. Kita diperlihatkan gimana salah satu aktor pemabuk yg pingsan terus dipaksa jadi zombie, ada juga aktor yg alergian yg cabut pas bagiannya, terus ada lagi aktor yg lepas kendali karena terlalu mendalami perannya yg akhirnya membutuhkan banyak orang untuk menghentikannya, sampai yg menurut gua paling lucu yaitu ketika si cameraman inti itu pingsan yg bikin kameranya diem, terus ternyata digantikan oleh cameraman pengganti, yg tingkahnya ngga kalah lucu dibanding si sutradara.

Film ini menggunakan zombie sebagai karakter yg meneror orang-orang di film ini. Zombie yg dipake di film ini tuh ngga kaya zombie di film lain yg sering banget dibikin overpowered, karena di film ini ya zombie tuh ya makhluk undead yg ngga punya pikiran, mereka cuman fokus ngejar daging yg masih hidup, dan makeup dari para zombie ini terlihat alami, ngga over the top lah.

Bagian lain yg gua suka dari film ini adalah teknik pengambilan gambarnya, terutama di bagian awal film ini yg bersifat found footage ala ala Cloverfield yg pertama, yg membuat penonton berasa masuk ke film itu karena di bagian itu si cameraman ngikutin pergerakan karakter lain dan tanpa berhenti (tanpa berhenti beneran ini, ngga dicut sama sekali).

Untuk cast dari film ini, gua ngga berekspektasi apa-apa, karena gua ngga tau siapa mereka, bahkan gaada link Wikipedia dari mereka, namun mereka bisa membuktikan kalo peran mereka tersebut bisa pecah banget di film ini, terutama untuk peran dari Takayuki Hamatsu yg jadi sutradara serta jadi aktor di film yg diambil di film ini.

Untuk scoring nya menurut gua ngga terlalu berkesan, ya terasa biasa aja gitu, ngga terlalu jelek namun ngga terlalu wah juga. Mungkin yg gua suka adalah lagu yg disisipin pas ending credit yg beneran dari film ini.

Verdict

Film ini cocok buat kalian yg suka dengan film komedi yg dibalut dengan horor zombie, yg menurut gua bisa bikin kalian ketawa dari awal sampai akhir film ini.

Final Score

9.2/10

Writer: Galih Dea Pratama ( http://instagram.com/galihdea )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s