Akhir Kisah Cinta Si Doel: Napak Tilas Seri Si Doel, dan Konsekuensi dari Pilihan

“Terkadang, semua yang dimulai harus selalu diakhiri, entah kapanpun itu”. Ya, dalam 27 tahun menemani penonton Indonesia, baik dari layar kaca sampai ke layar bioskop, seri Si Doel harus mengakhiri kisahnya, yang sudah menggantung sejak lama, yang diberi judul Akhir Kisah Cinta Si Doel.

Seperti Si Doel The Movie dan sekuelnya yang rilis tahun lalu, Akhir Kisah Cinta Si Doel masih diproduksi oleh Falcon Pictures dan Karnos Film, yang disutradarai dan ditulis oleh Rano Karno, sekaligus beradu akting bersama dengan Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Mandra, Suti Karno, Rey Bong, serta berbagai cast yang sama seperti beberapa seri sebelumnya.

Sejak awal, Doel merupakan orang yang baik, yang selalu berusaha untuk menjaga perasaan orang-orang di sekitarnya, terutama untuk yang dia sayangi, seperti Sarah dan Zaenab. Karena tindakan Doel yang ‘terlalu’ menjaga perasaan inilah, Doel cenderung memilih untuk tidak memilih apapun dan membiarkan semuanya terjadi, walaupun keadaan memaksanya untuk memilih salah satu. Hal tersebut, bukannya membuat keadaan lebih baik, justru menyebabkan keadaan yang dialami Doel, dan orang-orang yang terlibat di kisah Doel, menjadi merasa lebih tersakiti, alih-alih menjadi senang.

Karena itulah, setiap orang selalu dihadapkan pada situasi tertentu, dimana mereka harus memilih satu dari dua atau lebih opsi yang tersedia. Dalam setiap opsi tersebut, selalu saja ada konsekuensi yang didapat setelahnya, menuntut orang untuk tetap ikhlas menghadapi segala konsekuensi yang akan dia terima dalam opsi yang dia pilih ke depannya. Disamping konsekuensi, selalu ada hikmah dari setiap opsi, mengajarkan kita menjadi orang yang lebih baik, entah saat ini atau nanti. ‘Memilih’ lah yang akan dilakukan Doel di penutup dari trilogi ini, memberikan konklusi atas segala tindakan ‘jahat’ dari Doel, terutama pada Sarah dan Zaenab.

Selain memahami konsekuensi dari suatu pilihan, Akhir Kisah Cinta Si Doel juga menjadi napak tilas terhadap keberjalanan seri Si Doel sejak awal kemunculannya hingga saat ini sekaligus adaptasi dengan Jakarta, melalui perspektif Dul, anak dari Doel dan Sarah yang diperankan dengan baik oleh Rey Bong. Dul merupakan representasi millenials, yang tidak tahu menahu akan sejarah dari negara dimana ayahnya tinggal, dengan segala hiruk pikuknya, yang terlihat sangat berbeda dengan negara yang ibu dan dirinya tinggali selama puluhan tahun. Di bagian Dul pula, dia diceritakan bagaimana sejarah dari Doel, dari anak Betawi sampai jadi insinyur, serta sedikit cerita mengenai hubungan Doel dan Sarah di jaman dahulu kala, yang tentu saja akan menjadi momen nostalgia bagi para penikmat Si Doel. Disamping itu, Dul diperlihatkan juga berusaha untuk beradaptasi dengan perbedaan kasta yang dialami oleh kedua orang tuanya, dan berakhir menjadi penengah ‘sejati’ dari konflik antara Doel, Sarah, dan Zaenab.

Tanpa disadari, ada pula subplot mengenai Mandra, engkong dari Doel, yang dapat dianalogikan sebagai Yin dan Yang. Apabila Doel sebagai Yin dengan kecerdasan namun cenderung menahan diri, Mandra ini adalah Yang dengan ke-slenge-an dan banyolan khasnya, namun konsisten dengan keoptimisan yang dimiliki sepanjang hidupnya. Mandra adalah representasi ‘orang tua’ di masa dengan hidup yang selektif dan serba digital, yang masih kekeuh dengan apa yang dimiliki, berharap sesuatu yang baik akan mendatanginya, hanya dengan bermodalkan good will dan sedikit sepik-sepik dari adik-adiknya. Jujur, subplot mengenai Mandra ini akan jauh lebih berkesan, bila bagiannya tidak dipenuhi dengan banyolan dengan social commentary, yang sayangnya tidak terlalu berpengaruh pada main plot.

Dan semua itu dikemas dengan aspek teknikal yang sebagian besar oke, sinematografi oke, visual oke, scoring oke, dan set building yang dibuat dengan baik, sehingga tampil cukup realistis. Dibalik itu semua, penggunaan soundtrack Hanya Rindu nya Andmesh, yang memang dapat meng-escalate momen yang muncul, membuktikan bahwa Akhir Kisah Cinta Si Doel dari departemen soundtrack ini masih kurang, karena hanya bertumpu pada lagu yang memang sedang terkenal, tidak seperti film-film lain yang cenderung menaikkan pamor dari lagu yang dimasukkan.

Beruntunglah, Akhir Kisah Cinta Si Doel telah memberikan konklusi yang baik dalam proses sinematik nya, terutama untuk keberjalanan seri Si Doel nya sendiri. Akan ada pro dan kontra yang muncul setelahnya, diskusi dan analisis akan selalu berjalan, namun yang pasti, Akhir Kisah Cinta Si Doel akan selalu menjadi penutup yang cukup manis bagi seri yang telah beredar sejak lama.

 

Writer: Galih Dea Pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s