Mangkujiwo: Dendam yang Dikontrol Dendam yang Lebih Besar

Dendam adalah hal yang manusiawi. Namun, bagaimana jika dendam yang kamu miliki bukanlah dendam yang organic, melainkan dihasilkan berdasarkan sugesti orang yang sudah memiliki dendam nya sendiri?

Hal inilah yang dijadikan inti pada Mangkujiwo, film horror terbaru dari MVP Pictures, yang diarahkan oleh Azhar Kinoi Lubis yang kita kenal dengan Kafirdan Ikut Aku ke Neraka nya, dengan taburan aktor-aktris yang terbilang mumpuni, seperti Sujiwo Tejo, Asmara Abigail, Karina Suwandi, Roy Marten, Djenar Maesa Ayu, serta menjadi debut pemeran utama dari aktris muda Yasamin Jasem, setelah sebelumnya melakoni pemeran pendukung di Keluarga Cemara. Mangkujiwo ini menceritakan tentang bagaimana sekte Mangkudjiwo bangkit ke permukaan melalui perseteruan antar dua pihak dengan agendanya masing-masing.

Mangkujiwo ini menggunakan alur plot yang maju-mundur, yang memberikan insight lebih antar timeline nya, dengan action-reaction yang masih masuk akal sehingga mudah dipahami. Tak dapat dipungkiri, segalanya berjalan dengan baik, me-reveal apa yang terjadi dan perlahan memberikan koneksi pada berbagai film Kuntilanak sebelumnya, membuat Mangkujiwo akan jauh lebih bermakna bila kita telah mengikuti seri Kuntilanak, terutama trilogi original nya. Memang di act 1 dan act 2, film ini terasa sangat baik dengan perlahan memberikan koneksi, namun tidak untuk act 3 yang terasa cukup keteteran, walaupun tetap memberikan koneksi yang telah dipertanyakan sejak film bergulir.

Banyak sekali hal yang terasa manusiawi pada Mangkujiwo ini. Pertama, yang menjadi esensi film ini adalah bagaimana dendam dapat mempengaruhi hidup seseorang, dan layaknya kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan, dendam ini tentu dapat dikontrol, atau bahkan menciptakan dendam lain yang lebih kecil dan tak terarah, seperti yang direpresentasikan melalui karakter Brotoseno, Kanti, dan Hanuma, yang kurang lebih segala tindakan mereka didasarkan oleh dendam.

Kedua, setiap orang memiliki ketakutannya sendiri, terutama setelah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebenarnya, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketakutan, namun orang cenderung memilih untuk menghabisi sumber ketakutan mereka, yang bisa terjadi pada siapapun, bahkan dengan orang yang memiliki privilege sekalipun.

Ketiga, dalam setiap kubu yang berseteru, selalu ada pihak yang ingin mengambil keuntungan, dengan cara berpihak pada satu kubu. Mungkin tidak salah jika kamu tidak memilih kubu, namun dengan berkubu, seseorang akan berpotensi mendapatkan keuntungan lebih, bahkan bertahun-tahun setelahnya.

Yang jelas, sebagian besar karakter disini memang terbilang cerdik, walaupun karakter-karakter yang cerdik tersebut cenderung jahat. Dibalik itu semua, selalu ada karakter baik yang berusaha make things right, walaupun pada akhirnya karakter yang cerdik lah yang akan memenangkan semuanya, meninggalkan karakter dengan goodwill di belakang mereka. Inilah yang akhirnya membentuk sekte Mangkudjiwo yang akan dikenang bagi pecinta Kuntilanak franchise.

Semua ini didukung dengan cast yang notably berperan dengan baik, mulai dari karakter utama hingga karakter sampingan, membuat mereka bermakna pada setiap kemunculannya.

Mangkujiwo ini juga kental dengan unsur kejawen nya, membuat film ini dapat sesekali menimbulkan kengerian, didukung dengan scoring, sinematografi, dan editing yang terbilang baik. Visual dari film ini juga terbilang bagus, dengan pewarnaan yang cool, dan sesekali didukung view yang sedap dipandang, walaupun sayang sekali penggunaan CGI nya terkadang masih kurang halus, sehingga terasa kurang nyata.

Dan layaknya film horror lokal kekinian, film ini tetap memberikan rasa-rasa seperti gross dan thrill di beberapa momen. Namun, kembali lagi, act 3 adalah kelemahan utama film ini, karena terasa seperti ingin segera menyudahi segalanya, dengan scene yang terasa hanya power show-off.

Pada akhirnya, Mangkujiwo adalah film yang dapat menghubungkan kita dengan seri Kuntilanak yang dulu pernah kita cintai, sekaligus melengkapi apa yang kurang pada duologi Kuntilanak di tahun 2018-2019 lalu.

Apabila belum menonton seri Kuntilanak, penonton tetap akan paham dengan cerita dari Mangkujiwo, walaupun untuk mendapatkan full taste nya, tetap penonton diminta untuk menonton film-film Kuntilanak sebelumnya.

Dan sejujurnya, Mangkujiwo bukanlah film dari Azhar Kinoi Lubis yang terbaik bagi saya, namun Mangkujiwo adalah film horror terbaik di tahun 2020 dari saya, setidaknya untuk saat ini. Menurut saya, 8/10 adalah skor yang pas untuk Mangkujiwo.