Filosofi Kopi: Kisah Mengenai Dua Sisi ‘Tubuh’ yang Berbeda, Namun Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Dalam setiap tubuh, selalu ada dua hal utama, yakni ‘otak’ dan ‘jiwa’. Dua hal ini merupakan hal yang berbeda, dengan pemikiran mereka masing-masing, serta seringkali berseteru mengenai apa yang ‘benar’ dan ‘salah’ menurut mereka.

Sekilas, inilah yang diangkat pada Filosofi Kopi, film tahun 2015 yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dee Lestari, diproduksi oleh Visinema Pictures, disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, serta dibintangi oleh Chicco Jerikho, Rio Dewanto, dan Julie Estelle.

‘Tubuh’ yang dimaksud di Filosofi Kopi ini adalah kedai Filosofi Kopi, yang didirikan oleh Ben dan Jody, dua orang yang sudah bertahun-tahun bersahabat di tengah krisis yang melanda kehidupan keluarga Ben di masa lalu, sehingga menuntut Ben untuk hidup bersama Jody. Layaknya berbagai usaha mandiri pada umumnya, selalu saja ada yang harus dihadapi, baik pelanggan yang demanding, target yang harus dipenuhi dalam jangka waktu tertentu, sampai perdebatan mengenai apa yang harus dilakukan demi memenangkan ‘pertaruhan’ yang semula dianggap impossible.

Di Filosofi Kopi ini, yang berperan sebagai ‘jiwa’ adalah Ben. Ben lah yang dianggap menghidupkan kedai Filosofi Kopi, dengan segala kopi yang diracik olehnya, sekaligus mendatangkan pelanggan-pelanggan yang terlihat menggilai kopi. Dan untuk menghadirkan pelanggan yang lebih banyak lagi, Ben selalu berusaha dengan kemauannya untuk memberikan kopi yang ‘sempurna’, karena menurutnya ‘kopi yang baik akan menemui penggunanya’. Karena kemauan kerasnya untuk menghadirkan kopi ‘terbaik’ inilah yang seringkali membuat Ben mengambil keputusan-keputusan ‘gila’, membawa Jody dan Filosofi Kopi berpotensi masuk ke ambang kehancuran.

Apabila Ben adalah ‘jiwa’ dari Filosofi Kopi, tentu ada yang menjadi ‘otak’ nya, yaitu Jody. Jody adalah gambaran mengenai tipikal pebisnis yang sering kita temui sehari-hari, dengan segala pemikiran standarnya untuk menjalani bisnis, tentu dengan orientasi ‘cuan’ nya, supaya kedai Filosofi Kopi tetap hidup. Langkah yang diambil pun, walaupun terlihat kapitalis, namun ya itulah yang memang dilakukan oleh seorang pebisnis sejati.

Dua bagian tubuh ini, yang direpresentasikan oleh Ben dan Jody, memiliki dinamika kehidupannya sendiri, yang seringkali berlawanan, seperti ketika Ben yang selalu mengeluarkan keputusan yang reckless dengan penuh percaya diri, berbeda dengan Jody yang berusaha bermain aman di kondisi apapun. Dan karena itulah, perbedaan pandangan ini yang selalu mewarnai kehidupan, membuat setiap interaksinya terasa nyata. Namun, satu hal yang pasti, dua bagian tubuh ini tidak dapat berdiri sendiri, dan selalu membutuhkan satu sama lain supaya tetap hidup, sehingga membuat mereka perlu bekerjasama supaya dapat tetap hidup.

Banyak hal yang dapat dipelajari melalui Filosofi Kopi ini. Yang pertama, apabila ada tantangan, janganlah coba menghindarinya, karena tantangan tersebut hanya berakhir ketika kita menghadapinya. Kedua, dalam berbagai skenario, ketika kita menciptakan sesuatu, ciptakanlah hal tersebut dengan ‘cinta’ untuk membuatnya utuh, bukan dengan ‘obsesi’ yang justru menghilangkan value dari ciptaan kita. Dan ketiga, pengalamanlah yang membuat kita berbeda dengan orang lain. Entah kita lahir dari keluarga yang mapan, keluarga biasa, atau keluarga yang kurang, apabila kita tidak menempa hidup kita, kita tidak akan bisa menjadi apa yang kita inginkan. Tiga hal inilah yang kemudian dapat menjadi bahan pembelajaran hidup bagi kita semua.

Selain pelajaran hidup, tentu saja kita akan mendapatkan pelajaran mengenai filosofi dari setiap kopi, yang sebagian besar disini diracik oleh Ben. Seperti Macchiato yang ‘manja’, sampai ke Tiwus yang sederhana dan penuh kasih sayang, membuat kopi-kopi ini serasa hidup. Mungkin karena Filosofi Kopi ini, tren kedai kopi di dunia melonjak pesat, membuat segala sudut jalan ramai dengan kedai kopi ‘ala-ala’.

Dua tokoh utama di Filosofi Kopi, yakni Ben dan Jody, benar-benar sangat dominan disini, dengan porsi penceritaan yang baik, serta masa lalu yang dijelaskan dengan baik, sehingga memperkuat pembangunan karakter dari mereka sepanjang film. Selain itu, hadirnya Elaine dan keluarga Pak Seno juga sesekali dapat menaikkan tensi di film ini, membuatnya lebih wholesome.

Filosofi Kopi yang bagus ini tentu didukung dengan cast yang telah berperan dengan baik, terutama untuk para pemeran utama, seperti Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, dan Slamet Rahardjo. Selain itu, didukung pula dengan aspek teknikal yang bagus, seperti scoring pas, sinematografi bagus, dan visual yang eye-catchy, membuat film ini menyenangkan untuk ditonton, bahkan ketika menggunakan smartphone kita untuk menontonnya.

Menurut saya, Filosofi Kopi ini adalah film dari Angga Dwimas Sasongko yang sejauh ini jadi favorit saya, mengalahkan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang menurut banyak orang sangat relatable dengan kehidupannya. Dan sepertinya, 8/10 adalah angka yang pas untuk film Filosofi Kopi ini.

Jangan lupa juga untuk menonton Filosofi Kopi ini di Netflix ya, jangan di platform streaming yang kaleng-kaleng. Ayo, dukung industri film Indonesia dengan menontonnya di saluran yang resmi!

 

Writer: Galih Dea Pratama