Birds of Prey: Drama Wanita Di Tengah Kuasa Pria

Sebagian besar orang di dunia, terutama yang mapan, umumnya memiliki privilege. Privilege ini tidak terbatas untuk pria, namun berlaku juga untuk para wanita. Akan tetapi, bagaimana jika wanita tersebut melepaskan segala hal yang dulu menguntungkannya?

Inilah yang ingin diangkat di Birds of Prey and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn (buset dah, panjang bener judulnya. Yaudah, abis ini disebut Birds of Prey aja dah hahaha), yang masih tergabung dalam DC Extended Universe milik Warner Bros Pictures. Birds of Prey ini disutradarai oleh Cathy Yan, serta dibintangi oleh Margot Robbie, Mary Elizabeth Winstead, Jurnee Smollett-Bell, Rosie Perez, Ella Jay Basco, dan Ewan McGregor.

Di dunia yang ‘keras’ ini, wanita seringkali dianggap sebagai manusia yang paling fragile. Oleh karena itu, para wanita ini membutuhkan privilege dari orang-orang yang lebih kuat, yakni pria. Privilege nya pun beragam, namun umumnya pria menawarkan proteksi bagi wanita yang ingin tunduk padanya. Padahal sesungguhnya, pria ini dianggap kuat oleh orang-orang lain, ya karena ada wanita yang ‘mendorong’nya dari belakang.

Dan setiap orang pasti memiliki rasa muaknya masing-masing dan ingin sekali di-acknowledge oleh orang lain, tak terkecuali untuk wanita. Untuk itu, mereka melakukan tindakan yang terbilang rebellious, sehingga di saat yang sama, segala privilege yang ia miliki berpotensi untuk hilang seketika. Inilah motif utama dari apa yang dilakukan Harley Quinn di Birds of Prey ini.

Untuk mendukung kisah Harley Quinn, dimunculkan kisah dari tiga wanita lain dengan dinamika nya masing-masing, di tengah kuasa pria yang telah mencekik mereka, seperti segala capaian di dunia kerja yang tidak diakui atas namanya, namun atas nama seorang rekan kerja pria, yang sedikit lebih tinggi kedudukannya, yang merupakan representasi segala motif dari tindakan Renee Montoya, sekaligus ingin membuktikan bahwa semua orang bahwa dialah yang mencapai segalanya, bukan orang lain yang mereka elu-elukan. Memang ini terdengar selfish, tapi ketika melihat nya langsung, kalian akan menyadari bahwa diri kalian akan melakukan hal yang sama bila mendapatkan perlakuan yang serupa.

Layaknya kebanyakan film-film yang berbasis dari franchise komik superhero, selalu ada saja karakter dengan dua stereotip ini. Pertama, karakter yang berusaha membalaskan dendam pada orang yang bertanggung jawab atas apa yang menimpanya, sehingga dia menempa dirinya sendiri, supaya mampu membalaskan dendamnya, pada orang yang pantas. Dan untuk melakukan itu, dia berusaha untuk dikenang oleh orang-orang, dengan menggunakan catchphrase yang menurutnya catchy, namun justru catchphrase dari orang lain lah yang lebih dikenang oleh publik. Inilah yang ingin ditampilkan pada porsi dari karakter Helena Bertinelli, atau yang lebih kita kenal di komik dengan nama Huntress.

Di samping Huntress, ada satu stereotip lagi, yaitu cerita mengenai seseorang yang berusaha untuk meng-embrace kekuatannya, setelah dia menyadari bahwa dia bukanlah orang biasa. Namun, orang-orang seperti ini cenderung terjebak di posisi yang tidak dia inginkan, sehingga membuatnya terseret pada masalah yang sebenarnya tidak perlu, yang merupakan representasi sejati dari Dinah Lance, atau Black Canary.

Dan tentu saja, setiap villain tetaplah manusia. Mereka juga punya masalah-masalah pribadinya, serta ingin diakui, layaknya para wanita di Birds of Prey ini. Tak dapat dipungkiri, hanya dengan tiga hal, seperti money, manpower, dan acknowledgement lah, orang dapat berkuasa atas orang lain. Dan karena tiga hal tersebut pula, ditambah dengan masalah pribadinya, yang membuat seseorang merasa bahwa mereka memiliki kuasa atas apapun, membuat Roman Sionis ini cukup berkesan sebagai villain utama disini.

Dan semua hal tersebut, mulai dari Harley Quinn sampai dengan Roman Sionis, semuanya disatukan karena kehadiran satu orang, Cassandra Cain, orang biasa yang terjebak di tempat yang salah karena tidak sengaja berurusan dengan orang yang salah tanpa ia sadari, karena hanya satu hal yang menurutnya penting, survive di tengah lingkungan yang tidak mengakui keberadaannya, atau bahkan malah dianggap sebagai sampah masyarakat.

Ya, semua cerita tersebut dikemas pada film Birds of Prey yang bisa dibilang pure fun namun tetap berisi, memiliki esensi yang jauh lebih dalam dibandingkan film superhero wanita dari franchise sebelah yang marketing nya sangat mengecoh. Didukung dengan alur penceritaan maju-mundur yang menyatukan segalanya, penulisan antar karakternya yang mostly padat (terkecuali Dinah Lance, yang berasa outshined), serta aspek teknikal yang membuatnya semakin fun, seperti sinematografi ala film action yang keren, editing dan visual yang catchy ala Suicide Squad, serta penggunaan scoring yang pas, sehingga kita tahu kapan harus sedih, senang, atau melonjak penuh excitement. Jangan lupakan juga jajaran cast yang sudah terlihat menjiwai karakter-karakter mereka, yang terasa comic-accurate, tentu membuat para fans kegirangan.

Disamping itu semua, Birds of Prey tetap sadar bahwa dirinya masih tergabung di satu franchise superhero yang besar, sehingga masih memberikan insight pada karakter-karakter yang tergabung di franchise tersebut. Seperti Shazam, Birds of Prey juga menggunakan jokes yang benar-benar fresh, sehingga setiap line yang keluar dari mulut para karakter disini, terutama Harley Quinn, tetap menyenangkan untuk dinikmati.

Karena beberapa hal tersebut, Birds of Prey dapat dibilang sebagai salah satu film dari DC Extended Universe yang terbaik, namun tetap saja, film DC Extended Universe terbaik menurut saya masih jatuh pada Shazam. Untuk itu, film ini sangat recommended untuk kalian tonton, terutama di bioskop. Jika diminta skor, 8/10 adalah rate yang cocok untuk Birds of Prey ini.

Writer: Galih Dea Pratama