Cahaya Dari Timur – Beta Maluku: Ketika Sepakbola menjadi Solusi dari Perseteruan

Di Indonesia ini, banyak sekali keragaman yang dimilikinya. Indonesia memiliki ragam suku, budaya, sampai agama, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dengan berbagai macam perbedaan ini, akan terlihat sulit untuk menerima hal-hal yang berbeda menurut kita. Namun, tentu akan ada pula berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk menyatukan segala perbedaan yang sebelumnya dianggap tak mungkin menyatu tersebut, salah satunya melalui sepakbola, salah satu olahraga, yang tidak hanya digemari di Indonesia, namun juga di seluruh belahan dunia.

Hal ini yang ingin diangkat oleh Cahaya dari Timur – Beta Maluku (setelah ini disingkat Beta Maluku) yang merupakan film produksi Visinema Pictures, yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, serta dibintangi oleh Chicco Jerikho, Abdurrahman Arif, Glenn Fredly, dan Aufa Assagaf. Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang Sani (Chicco Jerikho), yang memiliki passion pada sepakbola, dan mulai melatih sepakbola untuk anak-anak Maluku, mulai dari masa perang sipil di Maluku, sampai akhirnya mengantarkan mereka mengikuti kejuaraan sepakbola nasional di Pulau Jawa.

Pesan yang ingin diangkat di Beta Maluku ini memang padat dan sangat terasa, yang mostly diantaranya memang bitter truth. Dengan hadirnya keragaman di Indonesia, termasuk agama dan kepentingan, akan selalu ada pihak yang ingin memecah belahnya, terutama di dalam. Karena itulah, bahkan sampai masa sekarang, akan ada perang yang pecah antar kepentingan maupun agama ini, melalui pemicu yang datang tanpa kita sadari. Dalam setiap perang, akan ada yang menang, akan ada yang kalah, dan yang terpenting, akan ada korban jiwa, bahkan untuk perang yang berskala kecil sekalipun. Akan tetapi, perang-perang ini dapat kita jadikan sebagai sebuah pembelajaran, bukan untuk memulai perang yang lain, namun untuk mencari cara untuk menghindari perang-perang yang berpotensi akan memberikan memori tak menyenangkan bagi kita di masa mendatang. tak terkecuali untuk cucu-cucu kita kelak.

Jangan lupa juga, dalam setiap pertikaian, pertarungan, bahkan perang sekalipun, selalu ada cara yang dapat dilakukan untuk mengakhirinya. Dan salah satu diantaranya adalah common interest, dimana sepakbola adalah hal tersebut di Beta Maluku ini. Sepakbola, secara hakikatnya, merupakan olahraga yang terdiri dari dua tim yang berlawanan, dengan memiliki 11 pemain dalam satu timnya ketika bertanding, adalah olahraga yang juga menuntut kita untuk bekerjasama supaya kita berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Beta Maluku ini bukan sepenuhnya film yang menekankan pada sepakbola, karena porsi pertandingan sepakbolanya tidak terlalu ditonjolkan layaknya film olahraga kebanyakan. Namun, proses di balik lapangan (bukan di balik layar ye) inilah yang memang disorot, bagaimana anak-anak dan Sani berproses dalam sepakbola, dari awal mereka menyukai sepakbola, hingga akhirnya dapat beraksi di kompetisi sepakbola nasional, demi mengharumkan nama daerah mereka yang sempat ternodai karena perang.

Ya, setiap orang yang terlibat dalam tim sepakbola Maluku di Beta Maluku ini sebagian besar memiliki dinamikanya masing-masing. Mulai dari Sani yang passionate dengan sepakbola dan memiliki tekad yang mulia, namun seringkali dianggap melupakan apa yang seharusnya dia prioritaskan, yakni keluarganya. Kemudian, ada pula Alfin Tuasalamony, Hari ‘Jago’ Zamhari Lestaluhu, dan Salim ‘Salembe’ Ohorella, dengan masalah hidup mereka, seperti kehilangan salah satu orang tua, tentangan keras atas sepakbola yang mereka geluti, dan tentu saja himpitan ekonomi yang keluarga mereka alami. Dan embel-embel ‘kisah nyata’ dari Beta Maluku ini muncul juga sebagai media untuk menceritakan kisah mereka, yang sama-sama disatukan dengan sepakbola, yang sekaligus sebagai penyambung hidup mereka semua, sampai saat ini.

Pesan-pesan yang ingin disampaikan Beta Maluku ini sangat luar biasa menggugah hati, karena banyak hal yang mendukungnya. Dari sisi cerita, memang diceritakan dengan linear, tanpa adanya flashback ala-ala, sehingga ya sudah, apa yang kita lihat ya apa yang terjadi saat itu. Sebagai pengingat masa lalu, Beta Maluku hanya bergantung pada setiap perkataan dari para karakternya. Dan juga, act 1 dan act 3 dapat ditampilkan dengan padat, walaupun act 2 nya terasa agak keteteran seiring munculnya penceritaan dari berbagai karakter, serta masalah Sani yang semakin pelik. Kemudian, dari cast, terlihat semuanya menjiwai karakter mereka, serta melafalkan logat Maluku secara fasih, membuatnya terasa natural serta dapat meningkatkan feel dari film ini lebih dalam lagi, dan apresiasi lebih saya berikan pada Chicco Jerikho, yang merupakan ‘jiwa’ dari film ini.

Tentu, aspek teknikal dari Beta Maluku juga sebagian besar bekerja dengan maksimal dan memberikan hasil yang mengesankan, terutama untuk sinematografi yang menawan, visual yang dapat menampilkan bahwa film ber-setting di tahun 2000an, scoring dengan placement yang sesuai sehingga membuat setiap momen semakin bermakna, serta set building yang mampu menampilkan Maluku yang terasa nyata, sesuai dengan setting waktunya.

Dan karena itulah, Beta Maluku ini memang pantas untuk mendapatkan penghargaan Film Bioskop Terbaik pada Festival Film Indonesia 2014 silam, yang sekaligus melambungkan nama Visinema Pictures sebagai salah satu rumah produksi asal Indonesia dengan segala film yang memiliki pesan moral yang dalam. Apabila ingin menonton film Beta Maluku ini, bisa ditonton melalui aplikasi Netflix, entah dari ponsel ataupun perangkat komputer yang tersedia, dan rasakan betapa menawannya Beta Maluku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s