Galih dan Ratna: Ketika Passion Tidak Menjamin Baiknya Hubungan

Apa jadinya, bila kamu merasa bertemu cinta sejatimu, hanya karena kalian berdua memiliki passion yang sama, namun tanpa kamu sadari, passion bukanlah segalanya dalam suatu hubungan, membuat semuanya menjadi semakin amburadul tidak karuan.

Inilah premis yang ingin diangkat dari Galih dan Ratna, film drama adaptasi novel dari Eddy D. Iskandar berjudul Gita Cinta dari SMA, yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi, dengan Refal Hady dan Sheryl Sheinafia sebagai pasangan pemeran utamanya.

Poin utama yang ingin ditampilkan di Galih dan Ratna adalah passion, suatu hal yang dianggap dapat menyatukan orang-orang, bahkan dengan latar belakang hidup yang jauh berbeda. Passion ini dapat tumbuh dalam berbagai kondisi, serta dapat mengubah nuansa hidup seseorang.

Namun, ada satu fakta, dimana passion setingkali tidak bisa sejalan dengan realita kehidupan, karena hadirnya stigma ‘passion belum tentu bisa menghidupimu’. Jadi, passion adalah suatu hal yang dapat dianggap sebagai double-edged sword, dimana dapat membuat senang, namun juga berujung memberikan kegetiran.

Karena itu, Galih dan Ratna ini seperti perjalanan dua orang yang disatukan karena passion, yang disini representasinya adalah musik. Musik adalah penyatu dua insan disini, yakni Galih dan Ratna, bahkan mereka dapat menebarkan musik pada orang-orang di sekitar mereka, supaya orang lain dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Namun, karena getirnya realita inilah, musik kurang memberikan pengaruh untuk hidup Galih dan Ratna menjadi lebih baik, setidaknya untuk salah satu dari mereka, dan berakhir menjadi suatu kenangan yang akan selalu membekas bagi mereka berdua.

Walaupun Galih dan Ratna merupakan adaptasi novel masa lampau, namun Galih dan Ratna memberikan warna baru, dengan mengubah hal-hal di dalamnya dengan sesuatu yang dianggap relevan, terutama untuk millenials masa kini, terutama di Indonesia. Pertama, munculnya morph mentality dengan segala alasannya, seperti karena word of mouth yang seringkali dijadikan sebuah acuan untuk melakukan apapun, dimana hal ini dikemas di Galih dan Ratna dengan cara yang cukup comedic, membuatnya terasa seperti satir.

Kedua, di dunia yang serba praktis ini, hampir segala aspek kehidupan dikendalikan oleh teknologi digital. Tak dapat dipungkiri, teknologi ini memang telah membantu banyak orang dalam melakukan segala hal dalam hidup mereka. Namun, teknologi digital ini tentu menenggelamkan teknologi analog. Bahkan pula, karena segalanya berusaha diubah menjadi digital, termasuk seni, barang-barang tersebut berpotensi menghilangkan esensi yang dimiliki olehnya. Dan masih ada banyak lagi sebenarnya budaya millenials yang ingin ditampilkan di Galih dan Ratna, namun memang dua hal tersebut yang disorot disana.

Dengan segala hal-hal baru tersebut, rupanya Galih dan Ratna tetap berusaha setia terhadap sumber aslinya walaupun hanya sepintas, menampilkan bagaimana orang yang dianggap mapan finansial terlihat selalu mengacuhkan orang dengan latar belakang finansial yang masih struggling, yang merupakan highlight dari Gita Cinta dari SMA, yang dulu juga diadaptasi ke layar kaca, dengan Rano Karno dan Yessy Gusman yang juga tampil sekilas disini, membuatnya menjadi fanservice, yang sepertinya dapat dinikmati oleh penikmat sumber aslinya.

Esensi dari film tersebut dapat terwujud dengan baik karena banyak hal. Pertama, jajaran cast yang memberikan jiwa pada karakter mereka, terutama Refal Hady dan Sheryl Sheinafia yang menurut saya merupakan akting terbaik mereka saat ini, namun karakter mereka berdua juga didukung dengan supporting cast yang senantiasa membantu karakter mereka semakin berkembang, dengan segala rasa yang mereka tampilkan. Kedua, penceritaannya sangatlah linear, karena tidak adanya flashback sebagai pengaluat cerita, membuat kita tidak kebingungan untuk memahami Galih dan Ratna ini, walaupun karena alur seperti inilah yang membuatnya tampak sama dengan film drama romance yang kebanyakan mewarnai bioskop kita. Ketiga, aspek teknikal yang sangat menawan, mulai dari sinematografi dengan pemilihan angle yang pas, scoring yang peletakannya cocok dengan sebagian besar scene, soundtrack yang didominasi lagu indie dan old-school Indonesia yang sesuai dengan apa yang ingin diusung di Galih dan Ratna, serta editing yang terlihat sangat rapi, membuatnya terasa sempurna.

Tanpa tiga hal baik tersebut, Galih dan Ratna tidak akan berakhir menjadi salah satu film yang berkesan, terutama untuk saya. Oleh karena itu, Galih dan Ratna adalah salah satu film Indonesia yang saya rekomendasikan untuk ditonton, yang menyenangkan sekaligus menggetirkan bagi kalian semua. Untuk menonton Galih dan Ratna, tontonlah melalui aplikasi Netflix kalian, salah satu platform resmi yang menyediakan film ini.

Writer: Galih Dea Pratama