Selamat Pagi, Malam: Ketika Kerasnya Jakarta Memberimu Pelajaran

Jakarta adalah ibukota Indonesia. Jakarta adalah tempat mengadu nasib, sekaligus kota yang diimpi-impikan bagi yang berasal dari daerah pelosok. Di tengah hiruk-pikuknya Jakarta, selalu ada hal yang dapat mengubah kita, entah menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya.

Setidaknya, itulah yang ingin diangkat oleh Selamat Pagi, Malam, yang merupakan film drama dari sutradara Lucky Kuswandi, yang dibintangi oleh Adinia Wirasti, Ina Panggabean, Dayu Wijanto, Marissa Anita, dan Dira Sugandi.

Selamat Pagi, Malam ini diceritakan dalam tiga perspektif karakternya. Yang pertama adalah Gia, seorang warga Indonesia yang telah lama menetap di New York, dan kemudian kembali ke Jakarta, yang ternyata sudah berubah sangat jauh setelah kepergiannya, membuatnya mengalami culture shock setelah tiba disana. Culture shock nya ini makin menjadi ketika Gia bertemu dengan Naomi, salah satu temannya ketika di New York, yang sepertinya telah ‘berdamai’ dengan keadaan Jakarta.

Untuk bagian Gia sendiri, memang mostly berisikan sentilan mengenai betapa berbedanya culture di Indonesia masa lampau dan masa kini, terutama di ibukota Indonesia sendiri yang sering kali dijadikan kota percontohan untuk kota-kota lain, yaitu Jakarta.

Pertama, bagaimana orang lain dipandang hanya berdasarkan habit dan looks nya saja, seperti kebiasaan ngopi bagi wanita yang dianggap bisa bikin mandul, serta menikah di umur 30an di Indonesia berpotensi menimbulkan aib keluarga. Kedua, masa kini memang seolah merupakan masa munculnya berbagai kemajuan teknologi, namun itulah juga yang membuat perilaku orang-orang menjadi lebih mundur, membuat orang-orang lebih terpaku dengan segala gadget yang mereka lagi. Ketiga, segalanya menjadi serba western, karena dianggap menguntungkan, baik dari sisi bisnis, maupun dalam pergaulan, sehingga memunculkan orang-orang yang socialite. Keempat, Selamat Pagi, Malam juga sekaligus menyindir kaum socialite, yang ternyata tidak setinggi itu. Mungkin mereka seringkali berkumpul di tempat-tempat mewah dengan dandanan glamour ala mereka. Namun, mayoritas dari mereka hanya mau berteman dengan sesamanya dan seringkali tidak memikirkan hal yang baik untuk orang lain, membuat mereka dibenci di balik layar oleh sebagian besar kalangan masyarakat.

Setelah Gia, ada Indri, wanita yang bekerja sebagai pegawai di sebuah gym yang terlihat glamour sekali. Sekilas, memang nampak bahwa pekerjaannya yang banyak bergaul dengan orang-orang kelas atas, membuat dirinya menjadikan mereka role model, menirukan segala gerak-gerik mereka, seperti barang yang dimiliki, serta berusaha untuk tampil seperti mereka di suatu tempat yang seharusnya tidak bisa dia masuki di kondisinya. Layaknya setiap orang, dia berusaha mencari cinta, namun alih-alih bertemu dengan segala coincidence seperti di kebanyakan film romance yang menye pol, Indri ini bertemu melalui aplikasi chat online dengan pria yang bermodalkan profile picture yang nampak gagah, membuat Indri ini mudah terbuai. Tentu saja, ketika kita mempunyai harapan yang tinggi, seringkali kita tidak siap untuk dilempar dengan kencang oleh realita, seperti yang dialami Indri, membuat dirinya terjebak di masalah yang seharusnya bisa dia hindari apabila Indri tidak dengan mudahnya ‘tersihir’.

Sebagai pelengkap Gia dan Indri, ada satu kisah tambahan dari Ci Surya. Ci Surya ini adalah wanita yang sedang berduka, karena suaminya, yang sering dipanggil dengan Koh Surya, meninggal dunia. Namun, seiring dengan meninggalnya Koh Surya, Ci Surya ini seakan merasa bahwa dirinya juga ikut hilang, belum lagi dengan penemuan fakta kelam mengenai Koh Surya yang selama ini tidak diketahui oleh Ci Surya, entah berapa lama. Di saat itulah, Ci Surya mulai menyelami gelap malam Jakarta, tempat segala fakta tersebut akan terungkap.

Seperti judulnya, Selamat Pagi, Malam ini memang sebagian besar terjadi di malam hari di Jakarta, yang mengisi 70% dari durasi film ini. Selamat Pagi, Malam ini menampilkan representasi Jakarta yang nyata, diawali dengan hiruk-pikuknya Jakarta di pagi hari, dimana setiap orang mengais rejeki di Jakarta yang keras pada saat itu (bahkan sampai sekarang juga masih seperti itu), sampai ke gemerlapnya malam Jakarta dengan segala hal ‘baik’ nya. Belum lagi dengan segala dialog yang keluar dari para cast, yang kelewat natural bin getir, mendukung bagaimana situasi Jakarta (dan Indonesia) di masa kini. Karena itulah, malam Jakarta ini dianggap sebagai Jakarta yang sesungguhnya, dengan segala kebahagiaan dan kegetiran yang menyelimutinya, menghantui dan memberikan pelajaran bagi setiap orang yang telah, atau akan singgah disana.

Namun, hal terpenting adalah kisah dari Gia, Indri, dan Ci Surya, dengan segala fakta di lapangan, tentang perjalanan menghadap culture shock di kampuang halaman yang telah lama ditinggalkan, tentang cinta yang fana, serta tentang hilangnya diri sendiri seiring dengan hilangnya hal penting dalam hidup. Semuanya terjadi karena munculnya ekspektasi besar, sehingga kita akhirnya dikecewakan dengan realita nan menyakitkan. Dan itulah yang dapat kita jadikan pelajaran, supaya kita dapat bertahan dalam pahitnya realita kehidupan.

Semua itu tersampaikan dengan baik karena aspek penceritaan yang saling overlap satu sama lain, menampilkan tiga sisi yang berbeda secara bergantian dengan halus. Sebenarnya, terlihat bahwa antar cerita ini memiliki penghubung, terutama yang terlihat jelas adalah bagian cerita Gia dan Indri, dimana terdapat satu atau lebih karakter yang menghubungkan cerita mereka berdua, namun tidak untuk bagian Ci Surya yang sepertinya terlepas sendiri, menjadi semacam side story yang tidak memiliki penghubung dengan dua bagian lainnya. Walaupun begitu, semuanya terlihat berakhir di tempat yang sama, yang tak akan pernah mereka duga, dimana semuanya akhirnya ‘terselesaikan’.

Tak dapat dipungkiri, akting dari para cast di Selamat Pagi, Malam ini memang patut dapat acungan jempol, mulai dari peran utama seperti Adinia Wirasti, Ina Panggabean, dan Dayu Wijanto yang sukses menampilkan emotion range yang luas dari karakter mereka, baik ketika senang dan juga sedih tergambar dengan nyata disini. Tak lupa juga deretan cast pendukung yang juga ikut memberikan kontribusi pada progresi cerita dan pengembangan karakter utama, seperti Marissa Anita yang telah beradaptasi dengan kenaifan Jakarta melalui ‘kamuflase’ nya, Paul Agusta dengan gelagat ala om-om nya, serta Trisa Triandesa yang menjadi temporary moral support bagi salah satu karakter utama.

Dan jangan lupakan juga aspek teknikal di Selamat Pagi, Malam. Walaupun secara keseluruhan segalanya terasa tidak terlalu istimewa, namun semuanya bekerja dengan baik dalam menampilkan kota Jakarta dan emosi dari setiap scene. Mulai dari sinematografi yang memperlihatkan bagaimana kota Jakarta di kala terang dan gelap, dimana dilakukan pengambilan gambar yang sesekali memberikan sindiran keras pada tanah Jakarta dan para penghuninya, visual yang terlihat membumi, serta scoring yang bertumpu pada natural noise. Tak pelak, karena aspek teknikal yang membuat suasana dalam setiap scene menjadi nyata inilah. sering kali saya mengucapkan sumpah serapah, ya karena film ini menggambarkan Jakarta yang nyata, dan bahkan kota besar lain di Indonesia, memberikan kesan awal yang menakutkan setelah menonton pertama kali.

Akhir kata, Selamat Pagi, Malam ini adalah film drama Indonesia yang harus kalian tonton, yang memberikan representasi nyata dari kehidupan ibukota Indonesia, dengan konflik yang pasti dialami disana oleh orang-orang. Akan ada banyak hal yang kita pelajari setelah menonton ini. Dan film ini juga membuktikan, film yang bagus bukanlah film yang hanya bertumpu pada kemewahan teknis, karena apa artinya teknikal menawan namun secara esensi, film tersebut hampa. Dan karena Selamat Pagi, Malam inilah, Lucky Kuswandi menjadi salah satu sineas lokal yang akan saya nanti karyanya di waktu mendatang.

Writer: Galih Dea Pratama