Milea – Suara dari Dilan: Dilan dan Segala Dinamika Kehidupannya

Dalam setiap hubungan umumnya terdiri dari dua orang atau lebih yang terlibat di dalamnya. Dan oleh karena itu, selalu ada cerita dari setiap orang tersebut. Dan tidak adil rasanya jika kita memberikan pandangan akan sesuatu hanya dari satu sisi kan?

Dan untuk itulah, hadir Milea – Suara dari Dilan, film ketiga dari seri Dilan, yang masih disutradarai oleh Fajar Bustomi dan Pidi Baiq, serta dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla. Milea ini juga diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Pidi Baiq.

Sebelum saya mulai membahas Milea ini, saya akan memberitahukan ke kalian semua, bahwa saya BELUM MEMBACA versi novel nya, namun karena keingintahuan saya yang sangat besar dan hasil mengais informasi dari orang-orang sekitar, saya mengetahui beberapa poin penting yang muncul di novelnya. Namun, saya sudah menonton Dilan 1990 dan Dilan 1991 di tahun perilisannya tanpa melakukan rewatch.

Jika kita ingat bagaimana Dilan 1990 dibuka, Milea pun juga dibuka dengan cara yang sama, menggunakan teknik breaking the fourth wall, atau buat yang ngga tau, ini adalah teknik dimana minimnya pembatas antara film dan penontonnya, seolah-olah karakter di film berinteraksi bersama kita, yang dinarasikan oleh Dilan sendiri, yang sekaligus menjadi narator selama Milea berjalan.

Layaknya versi novelnya, Milea ini memberikan pendalaman karakter bagi Dilan, yang dulu dibuat misterius dengan teknik-teknik gombalisasi nya yang sempat digandrungi para kaum hawa seantero Indonesia. Disini, kita akan melihat bagaimana interaksi Dilan dengan anggota keluarganya dan teman-teman satu geng motornya, dan yang terpenting, diperlihatkan pula beberapa hal yang terjadi di belakang peristiwa Dilan 1990 dan Dilan 1991.

Menarik sebenarnya, melihat Dilan yang tidak melulu ngegombal disini, karena yang ditekankan adalah dinamika kehidupan dari Dilan. Dengan kegundahan remaja yang jatuh cinta, pertemanan yang erat, serta emosi remaja yang menggebu-gebu, bahkan dapat membuat hilang kendali atas diri sendiri, membuat Dilan terasa lebih multi-dimensi, dibandingkan Milea di duologi Dilan sebelumnya yang terasa satu dimensi sekali. Untuk Dilan, Milea ini adalah catalyst, yang memberikan pengaruh ‘baik’ pada Dilan, dan membuat Milea ini menjadi orang yang dinanti-nanti oleh orang-orang terdekat Dilan, bahkan lebih dinanti dibandingkan Dilan hahaha.

Selain Dilan, kita juga akan melihat bagaimana keluarga dari Dilan, yang memang juga disorot lebih banyak disini, menampilkan interaksi lebih banyak antara Dilan dengan Bunda dan Ayahnya, yang memiliki latar belakang militer dengan didikan yang terbilang keras. Namun sayang, Disa disini tetap dirasa kurang diberikan porsi, jadi ya karakternya hanya selintas saja, tidak memberikan kita ruang untuk peduli pada dia.

Disamping keluarga Dilan, geng motor Dilan juga lumayan banyak ditampilkan disini, sekaligus memberikan motif dibalik beberapa kejadian penting di duologi Dilan sebelumnya. Geng motor ini, yang merupakan hal yang paling dibenci Milea, ditampilkan 180 derajat berbeda, mematahkan stigma yang telah kita terima selama kita menonton Dilan. Dan memang, geng motor ini punya pengaruh bagi karakter Dilan, karena memang geng motor ini sudah ada, bahkan sebelum Milea hadir mewarnai hidup Dilan, yang membuat geng ini merasa ditinggalkan Dilan, mengatakan bahwa Dilan yang sekarang bukanlah yang mereka kenal saat itu.

Dilan juga ditampilkan berinteraksi dengan beberapa teman di geng motornya, seperti Pian dan Akew, namun entah karena apa, interaksinya masih kurang dalam, terutama untuk Akew, yang harusnya punya andil besar dalam pengembangan karakter Dilan, bahkan terasa ditinggalkan di tengah jalan.

Jujur saja, Milea ini, layaknya dua Dilan sebelumnya, tetap memberikan feel yang menyenangkan ketika ditonton, terutama ketika menontonnya bersama dengan kerabat kita, karena penonton tetap akan mendapatkan celetukan-celetukan yang sesekali memancing tawa, terutama dari mulut seorang Dilan yang secara ajaib mampu menyihir kita semua, yang dibawakan dengan sangat menyenangkan dan alami oleh Iqbaal Ramadhan, didukung pula dengan supporting cast yang serasa all-out dibandingkan dua film sebelumnya, seperti Ira Wibowo, Bucek Depp, dan Adhisty Zara, ya tentu karena cerita Milea ini yang memberikan porsi lebih pada mereka.

Namun, maaf-maaf kata, Milea ini terlihat seperti film yang penulisannya terbilang sangat malas. Bagaimana tidak, kurang lebih setengah adegan dari film ini terlihat menggunakan footage dari dua Dilan sebelumnya, dan sisanya hanyalah adegan baru yang melengkapi duologi tersebut. Oleh karena itu, menonton Milea ini serasa menonton recap dari Dilan 1990 dan Dilan 1991 dalam satu film, dengan beberapa penambahan di beberapa bagian pentingnya. Dan buat apa juga kita menonton film yang sebenarnya hanya mengulang kejadian penting dari film-film sebelumnya.

Milea dan duologi Dilan ini, sepertinya ingin menggunakan format yang sama seperti film Mars Met Venus yang dibagi menjadi dua part, yang memberikan sudut pandang berbeda di setiap part nya, namun alih-alih menggunakan footage di part lain, Mars Met Venus terlihat lebih berusaha keras, karena masih mau melakukan beberapa reshoot, sehingga ada beberapa adegan serupa yang ada di setiap part, namun diambil dari sudut pandang yang berbeda, membuatnya lebih terasa personal. Itulah yang seharusnya bisa dilakukan Milea selama durasi berlangsung, bukan terus menerus menggunakan footage yang sebenarnya telah kita lihat sebelumnya. Bukan hanya itu saja, alih-alih menjadi penutup, Milea ini masih meninggalkan tanda tanya, dan sepertinya akan ada sequel yang mungkin didaulat sebagai ultimate ending dari kisah Dilan dan Milea, yang justru membuat saya makin naik pitam, namun entah untuk penonton lain, bisa saja senang atau bahkan lebih geram hahaha.

Dari sisi teknikal pun, tidak ada yang berubah pada Milea jika dibandingkan dengan dua Dilan. Masih dengan sinematografi yang cukup oke, yang dapat menangkap keindahan Bandung di tahun 90an dan menampilkan emosi di beberapa bagian penting, scoring yang peletakannya cukup pas, dan soundtrack yang terasa cocok dengan Milea oleh The Panasdalam Bank, membuat Milea ini memiliki feel yang sangat dalam.

Dan menurut saya, Milea ini bisa saja menjadi film yang terbaik versi saya dibanding dua Dilan, andaikan tidak memberikan bait untuk sequel dan melakukan penulisan yang lebih rajin, bukan sekadar menggunakan footage dari film sebelumnya.

Dan inilah skor saya untuk film di Dilan dan Milea saga ini: Dilan 1990 (5/10), Dilan 1991 (4/10), dan Milea (4.5/10). Jadi, Milea ini akan saya rekomendasikan untuk kalian yang memang menikmati seri Dilan dan Milea, baik dari novel dan filmnya.

Writer: Galih Dea Pratama