Ju-On: Origins (Review)

Setiap aksi selalu ada reaksinya. Hal seperti ini berlaku untuk apapun, terutama untuk tindakan jahat. Bahkan siklus perlakuan buruk bisa muncul pula di masa depan. Seperti itulah premis yang kiranya diusung oleh seri Ju-On secara keseluruhan, termasuk untuk Ju-On: Origins yang secara eksklusif tayang di Netflix.

Digembor-gemborkan sebagai prekuel dari kisah Ju-On sebelumnya, Ju-On: Origins ini mengangkat kisah dari seorang pelakon industri hiburan yang dihantui oleh kejadian aneh. Kemudian dirinya meminta bantuan pada seorang paranormal yang justru tertarik dengan kisah tersebut dan mulai menelusuri apa yang sesungguhnya terjadi pada kejadian yang melibatkan rumah yang telah lama ditinggalkan.

Layaknya beberapa seri Ju-On sebelumnya, Origins ini juga berpusat pada satu rumah yang dikutuk karena menjadi latar dari satu kejadian masa lalu yang sangat kelam. Di masa depan, rumah yang sama juga menjadi tempat terjadinya kejadian buruk sehingga siklusnya berlangsung hingga saat itu.

Fokus dari Origins ini tetaplah mengenai curse yang berlangsung tanpa henti, akan tetapi backstory dan motifnya dibuat berbeda. Hal tersebut lantaran Origins mengambil tema mengenai pelecehan seksual, yang lebih mengerikan ketimbang hantu yang harusnya menjadi ancaman dalam seri ini.

Ya, Ju-On memang terkenal dengan keluarga Saeki-nya yang selalu mengancam para karakter di dalamnya. Namun berbeda dengan Origins yang menjadikan seorang perempuan berbusana putih (yang jelas ini bukan Kayako, setidaknya itu yang penulis pahami) dengan dendam karena diperkosa, sehingga mengutuk orang-orang lain di rumah tersebut, terutama yang melakukan rape di dalamnya.

Bila hantu keluarga Saeki sebelumnya lebih frontal dalam melancarkan teror mereka, lain halnya dengan Woman in White yang lebih sering terlihat merasuki korbannya. Korban tersebut kemudian mendorong terjadinya tindak kejahatan, sehingga membuat manusia di sini menjadi ancaman yang serius.

Karakteristik Ju-On lainnya yang diusung pada Origins ini adalah penggunaan elemen sci-fi di dalamnya yang menguatkan aspek penceritaan. Alih-alih menggunakan flashback, karakter bakal dibawa ke waktu lain yang berkaitan dengan kejadian yang mereka alami. Memang hal ini bakal terlihat membingungkan, namun setidaknya ini bakal bikin penggemar Ju-On tetap puas.

Walaupun begitu, rasanya Origins musim pertama ini terasa masih kurang. Dapat diakui kalau elemen penceritaan dan social commentary-nya cukup bagus, namun aspek horornya justru tertinggal di seri sebelumnya. Bahkan The Grudge dari Nicolas Pesce kemarin masih lebih lihai dalam menakuti jika dibandingkan yang satu ini.

Tetap saja, bila kamu belum kenal dengan seri Ju-On yang melegenda dan penasaran dengan kisahnya, Origins ini bisa dijadikan pilihan pertama sebelum masuk ke seri-seri lainnya.

Score: 6.0 / 10

Writer: Galih Dea Pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s